pexels-artem-podrez-8518623

Jenis Pendanaan Start Up

Posted by

Beberapa tahun silam, istilah start up populer dan mulai dikenali oleh masyarakat luas sebagai perusahaan rintisan yang belum lama berkembang. Namun, meski sebagian dinilai sebagai ‘perusahaan baru’, start up berpotensi menjadi perusahaan besar dengan julukan Unicorn, yakni perusahaan yang memiliki nilai kapitalisasi hingga $1 miliar. Angka tersebut tentu saja menimbulkan pertanyaan, bagaimana cara startup berkembang dan dari mana modalnya? Berikut adalah penjelasan mengenai jenis pendanaan start up yang sebaiknya Anda ketahui.

Tentang Pendanaan Start Up

Sebelum membahas mengenai jenis pendanaan start up, ada baiknya untuk memahami terlebih dahulu tentang pendanaan start up. Selain dedikasi, waktu, dan kedisiplinan, membangun start up membutuhkan pendanaan yang cukup. Pendanaan tersebut berasal dari berbagai sumber, tergantung potensi, minat investor, dan pendapatan yang mereka miliki saat memasarkan produknya. Start up biasanya mengelola perusahaan mereka dari modal yang kecil, namun tidak dapat kita pungkiri mereka membutuhkan dana yang lebih besar untuk bersaing dengan kompetitor dan memperluas pasar. Itulah sebabnya, tahap pendanaan start up di bagi menjadi beberapa tingkatan, yakni pendanaan pada tahap pembentukan dan pertumbuhan.

Baca : Cara Mudah Ini Bisa Bikin Hemat Bayar Vendor dan Supplier

Jenis Pendanaan Start Up

Pendanaan Startup – Awal Pembentukan 

Pada tahap ini, individu maupun kelompok berencana membangun start up dan melewati beberapa proses berikut:

  1. Pre-seed Funding

Pre-seed funding biasanya berupa dana yang sudah tersedia, seperti dana pribadi yang berasal dari keluarga dan kelompoknya. Dana yang startup butuhkan mulai di bawah US$ 0,25 juta atau sekitar Rp 150 juta – 1, 5 miliar. Pada tahap ini, start up perlu memperluas ide, uji coba pasar (market testing), hingga perencanaan saat meluncurkan produk.

  1. Seed Funding

Saat ingin mengembangkan produknya menjadi lebih besar, start up membutuhkan seed funding sekitar US$ 1,7 juta atau sekitar Rp 500 juta hingga 2,5 miliar rupiah. Pada tahap ini start up tidak  lagi mengandalkan dana mandiri, melainkan mendapatkan investor dari:

  • Crowdfunding (pendanaan dari banyak orang, bisa melalui internet)
  • Micro venture capital (modal dana dari beragam investor)
  • Business angel (pendiri start up yang memutuskan untuk memberikan dana atau investasi kepada perusahaan baru)

Seed funding startup gunakan untuk keperluan rekrutmen, launching produk, dan menarik pelanggan untuk lebih mengenal produk maupun layanan yang ditawarkan. 

Pendanaan Start Up – Tahap Pertumbuhan

Jenis pendanaan start up berikutnya berdasarkan tahap pertumbuhan,saat perusahaan sudah mengalami scaling (menuju tahap lebih besar) dan market share (total pendapatan memadai). Maka, pendanaan mulai berkembang menjadi beberapa kategori sebagai berikut: 

Seri A

Pada putaran seri A, perusahaan sudah memiliki layanan atau produk tetap beserta dengan penggunanya. Pendapatan yang perusahaan miliki juga bertumbuh secara konsisten dan membutuhkan dana seri A untuk mempertahankannya. Kisaran dana putaran seri A berjumlah 10 hingga 33 miliar rupiah. Biasanya dana tersebut perusahaan dapatkan dari berbagai investor. 

Seri B

Pendanaan seri B jumlahnya tentu jauh lebih tinggi. Sebab, pada tahap ini, start up lumayan stabil saat berhadapan dengan kompetitor, market share meningkat, dan memiliki keinginan untuk memperluas cabang di berbagai wilayah. Kisaran dana yang perusahaan dapatkan pada putaran seri B adalah 22 hingga 88 miliar rupiah. 

Seri C

Apabila start up berkembang semakin besar dan memiliki potensi untuk bersaing di pasar internasional, memiliki kesempatan untuk memperoleh pendanaan seri C dengan jumlah mencapai US$ 50 juta. 

Pada tahap ini, perusahaan mengalami pertumbuhan yang pesat, pengguna semakin meningkat, dan perusahaan memiliki kemampuan untuk melakukan akuisisi. Investor yang berpartisipasi biasanya  venture capital tingkat lanjut, bank, hingga swasta. 

IPO (Initial Public Offering)

Jenis pendanaan start up yang berikutnya sekaligus menjadi pertanda bahwa start up sudah berada di puncak pendanaan. Pada tahap IPO, start up sudah siap memperjualbelikan sahamnya di pasar. Waktu yang startup butuhkan cukup lama, yakni sekitar 5-10 tahun untuk mendapatkan IPO. 

Dilansir Katadata, pada tahun 2022 terdapat 30 perusahaan yang mencatat IPO atau saham perdana. Dari jumlah tersebut, terdapat empat perusahaan perusahaan sektor industri, teknologi, dan consumer non -cyclicals.  Hal tersebut turut menunjukkan bahwa start up di Indonesia mengalami pertumbuhan yang signifikan dan membutuhkan pendanaan untuk berkembang menjadi lebih besar.

Semakin cepat mendapatkan pendanaan, semakin tinggi pula kesempatan bagi start up untuk berhasil. Namun, keberhasilan tersebut butuh usaha dan tekad yang besar, kemampuan yang mumpuni, serta tim yang berdedikasi tinggi untuk memajukan perusahaannya.